Anak yang mengalami enuresis sebenarnya tidak tahu mengapa dirinya ngompol. Jadi, biasanya dia akan malu bahkan merasa bersalah gara-gara tidak bisa buang air di tempat yang semestinya. Apalagi jika orang tua atau teman-teman meledek dan mengejeknya. Ia akan lebih malu dan ujung-ujungnya merasa sedih karena tidak mampu menahan pipisnya maupun menutupi "aib" yang menimpanya.
Oleh karena sering mengompol, anak akan menilai dirinya nakal. Mengapa bisa berdampak sampai ke situ? "Dalam diri anak, bukan masalah dirinya berguna atau tidak berguna, tetapi apakah dia sebagai anak bandel atau baik," kata Aya.
Jika peristiwa ngompol berlanjut hingga anak beranjak remaja dan dewasa, kemungkinan hal itu disebabkan gangguan medis. Bukankah seiring pertambahan usia seseorang, seharusnya dia juga bisa mengontrol dan mengatur suasana hatinya sehingga tidak tegang, cemas atau takut yang berlarut-larut. Dia pun semestinya sudah bisa mencari solusi dari kemelut yang dihadapinya.
Juga, apabila ketegangan emosi yang dialaminya tidak teratasi sampai anak dewasa, maka masalah yang dihadapinya akan lebih berat. Sedikit saja dia mengalami ketegangan sudah pasti akan ngompol.
Dampak lebih lanjut, anak akan menjalani hari-harinya dalam kondisi tegang, tidak percaya diri dan memunculkan konsep diri negatif dalam dirinya. "Dia akan mempersepsikan diri sebagai orang yang patut ditertawai karena sering ngompol," begitu Aya mencontohkan.
Karena selalu merasa tegang, maka dia juga akan mengalami masalah ketika bersosialisasi. Dia menjadi anak yang sulit bergaul, pendiam dan berusaha menutupi "kekurangannya" semata-mata karena takut diledek atau dicemooh.
sumber : http://www.tabloid-nakita.com/Panduan/panduan05257-02.htm
Selasa, 01 Juni 2010
FREKUENSI ENURESIS CUKUP TINGGI
FREKUENSI CUKUP TINGGI
Memang wajar bila ngompol terjadi di saat anak menangis atau menjerit karena ketakutan atau ketika melihat maupun mengalami sendiri pengalaman yang traumatik. Kondisi itu berbeda dari enuresis yang biasanya terjadi tidak dalam kondisi atau ekspresi menangis, tegang, panik, dan sebagainya tetapi tiba-tiba saja dan tanpa disadari.
frekuensi enuresis cukup sering, yaitu sekitar dua kali dalam seminggu. Peristiwa ngompol itu terus berulang sampai beberapa minggu atau berbulan-bulan lamanya. Sementara ngompol sesekali dalam seminggu bisa jadi karena kelelahan, meski tetap mesti diwaspadai juga. Ini penting karena terjadinya enuresis bisa bervariasi tergantung pada kondisi yang menyebabkannya. Contohnya saat anak merasa dirinya sangat tertekan, dia akan ngompol terus-menerus setiap hari.
Rata-rata anak mengalami enuresis di saat usia sekolah, yaitu mulai umur enam tahun. Pasalnya, di SD anak sudah mulai mendapatkan banyak tuntutan dan beban tugas sebagai anak sekolah. Belum lagi tuntutan dari lingkungan bahwa sebagai anak yang sudah duduk di bangku SD, ia tak boleh ngompol lagi. Itulah mengapa di usia balita, enuresi
justru jarang terjadi.
SUMBER : http://www.tabloid-nakita.com/Panduan/panduan05257-02.htm
Memang wajar bila ngompol terjadi di saat anak menangis atau menjerit karena ketakutan atau ketika melihat maupun mengalami sendiri pengalaman yang traumatik. Kondisi itu berbeda dari enuresis yang biasanya terjadi tidak dalam kondisi atau ekspresi menangis, tegang, panik, dan sebagainya tetapi tiba-tiba saja dan tanpa disadari.
frekuensi enuresis cukup sering, yaitu sekitar dua kali dalam seminggu. Peristiwa ngompol itu terus berulang sampai beberapa minggu atau berbulan-bulan lamanya. Sementara ngompol sesekali dalam seminggu bisa jadi karena kelelahan, meski tetap mesti diwaspadai juga. Ini penting karena terjadinya enuresis bisa bervariasi tergantung pada kondisi yang menyebabkannya. Contohnya saat anak merasa dirinya sangat tertekan, dia akan ngompol terus-menerus setiap hari.
Rata-rata anak mengalami enuresis di saat usia sekolah, yaitu mulai umur enam tahun. Pasalnya, di SD anak sudah mulai mendapatkan banyak tuntutan dan beban tugas sebagai anak sekolah. Belum lagi tuntutan dari lingkungan bahwa sebagai anak yang sudah duduk di bangku SD, ia tak boleh ngompol lagi. Itulah mengapa di usia balita, enuresi
justru jarang terjadi.
SUMBER : http://www.tabloid-nakita.com/Panduan/panduan05257-02.htm
Penyebab Enuresis
KENAPA ENURESIS?
Dari situasi yang melingkupi enuresis jelaslah bahwa masalah ini berkaitan dengan masalah psikologis anak. Misalnya, anak mengalami gangguan emosi dan perasaan yang beraneka ragam seperti takut, tegang, atau sedih yang mendalam. Enuresis juga merupakan bentuk ekspresi dari perasaan yang terpendam, sebagai ungkapan kegelisahan atau karena mengalami trauma berkepanjangan. Enuresis juga bisa sebagai pertanda bahwa si anak membutuhkan perhatian dari lingkungannya.
Ngompol lantas terjadi sebagai manifestasi dari aktifnya metabolisme tubuh karena anak yang bersangkutan merasa tegang atau sedih tetapi tidak mampu mengekspresikan perasaannya.
Penyebab enuresis bermacam-macam. Menurut Pengajar di Unika Atma Jaya, Jakarta ini yang pasti sumber masalahnya terdapat dalam lingkungan kehidupan sosial anak, bisa dalam keluarga, di sekolah atau lainnya. Di lingkungan keluarga bisa karena kakek-nenek, orang tua, kakak atau adik. Misalnya karena sering ditinggal orang tuanya, selalu mendapat tekanan dari orang tua, atau merasa diperlakukan tidak adil dan berbeda dibandingkan perlakuan orang tua terhadap kakak atau adiknya.
Masalah di lingkungan sekolah bisa berkaitan dengan guru atau teman. Misalnya takut ke sekolah karena materi pelajaran yang dinilainya terlalu memberatkan, takut mendapat nilai jelek, atau takut dimarahi guru. Bisa juga karena bermasalah dengan teman-temannya, seperti selalu berselisih atau bermusuhan sehingga menjadi sangat tegang hingga akhirnya ngompol.
sumber : http://www.tabloid-nakita.com/Panduan/panduan05257-02.htm
Dari situasi yang melingkupi enuresis jelaslah bahwa masalah ini berkaitan dengan masalah psikologis anak. Misalnya, anak mengalami gangguan emosi dan perasaan yang beraneka ragam seperti takut, tegang, atau sedih yang mendalam. Enuresis juga merupakan bentuk ekspresi dari perasaan yang terpendam, sebagai ungkapan kegelisahan atau karena mengalami trauma berkepanjangan. Enuresis juga bisa sebagai pertanda bahwa si anak membutuhkan perhatian dari lingkungannya.
Ngompol lantas terjadi sebagai manifestasi dari aktifnya metabolisme tubuh karena anak yang bersangkutan merasa tegang atau sedih tetapi tidak mampu mengekspresikan perasaannya.
Penyebab enuresis bermacam-macam. Menurut Pengajar di Unika Atma Jaya, Jakarta ini yang pasti sumber masalahnya terdapat dalam lingkungan kehidupan sosial anak, bisa dalam keluarga, di sekolah atau lainnya. Di lingkungan keluarga bisa karena kakek-nenek, orang tua, kakak atau adik. Misalnya karena sering ditinggal orang tuanya, selalu mendapat tekanan dari orang tua, atau merasa diperlakukan tidak adil dan berbeda dibandingkan perlakuan orang tua terhadap kakak atau adiknya.
Masalah di lingkungan sekolah bisa berkaitan dengan guru atau teman. Misalnya takut ke sekolah karena materi pelajaran yang dinilainya terlalu memberatkan, takut mendapat nilai jelek, atau takut dimarahi guru. Bisa juga karena bermasalah dengan teman-temannya, seperti selalu berselisih atau bermusuhan sehingga menjadi sangat tegang hingga akhirnya ngompol.
sumber : http://www.tabloid-nakita.com/Panduan/panduan05257-02.htm
KENCING MALAM (ENURESIS)
Apakah Enuresis?
Enuresis ialah terma dalam perubatan untuk kencing malam. Ini adalah satu keadaan dimana kanak-kanak kencing tanpa disedari semasa tidur. Kebanyakan kanak-kanak berhenti kencing malam selepas berumur 5 atau 6 tahun tetapi ada juga kajian menunjukkkan yang 10%-15% daripada kanak-kanak yang berumur 5-12 tahun masih terus kencing malam walaupun mereka tiada masaalah dalam sistem buah pinggang. Kajian menunjukkan di Malaysia masih terdapat lebih kurang 6.2% daripada kanak-kanak yang berumur 7-12 tahun masih lagi kencing malam.
Enuresis adalah istilah yang digunakan untuk kebiasaan pengeluaran air seni tanpa terkendali (mengompol) pada anak-anak yang berusia lebih dari tiga tahun. Mengompol bisa terjadi pada saat tidur siang hari, namun pada umumnya terjadi pada saat tidur malam hari.
Biasanya, anak yang menderita enuresis menyadari bahwa dirinya basah oleh air seninya melalui mimpi seolah sedang buang air kecil di kamar mandi. Anak terbangun dan sudah mendapati pakaian tidurnya basah oleh air seninya sendiri. Mengompol bisa berulang dengan frekuensi 5-6 kali dalam satu minggu. Kejadian enuresis bisa bervariasi yang disebabkan oleh kebiasaan atau oleh kondisi tertentu, misalnya saat anak merasa dirinya sedang sangat tertekan.
sunber ; http://www.tabloid-nakita.com/Panduan/panduan05257-02.htm
Enuresis ialah terma dalam perubatan untuk kencing malam. Ini adalah satu keadaan dimana kanak-kanak kencing tanpa disedari semasa tidur. Kebanyakan kanak-kanak berhenti kencing malam selepas berumur 5 atau 6 tahun tetapi ada juga kajian menunjukkkan yang 10%-15% daripada kanak-kanak yang berumur 5-12 tahun masih terus kencing malam walaupun mereka tiada masaalah dalam sistem buah pinggang. Kajian menunjukkan di Malaysia masih terdapat lebih kurang 6.2% daripada kanak-kanak yang berumur 7-12 tahun masih lagi kencing malam.
Enuresis adalah istilah yang digunakan untuk kebiasaan pengeluaran air seni tanpa terkendali (mengompol) pada anak-anak yang berusia lebih dari tiga tahun. Mengompol bisa terjadi pada saat tidur siang hari, namun pada umumnya terjadi pada saat tidur malam hari.
Biasanya, anak yang menderita enuresis menyadari bahwa dirinya basah oleh air seninya melalui mimpi seolah sedang buang air kecil di kamar mandi. Anak terbangun dan sudah mendapati pakaian tidurnya basah oleh air seninya sendiri. Mengompol bisa berulang dengan frekuensi 5-6 kali dalam satu minggu. Kejadian enuresis bisa bervariasi yang disebabkan oleh kebiasaan atau oleh kondisi tertentu, misalnya saat anak merasa dirinya sedang sangat tertekan.
sunber ; http://www.tabloid-nakita.com/Panduan/panduan05257-02.htm
Akibat dari Encopresis
AKIBAT FISIK-PSIKIS
Anak yang mengalami encopresis akan mengalami berbagai masalah emosi, seperti rendah diri, tak mau bersosialisasi atau menarik diri dari pergaulan. Ia juga akan merasa malu, takut dicemooh, atau khawatir dimarahi. Belum lagi secara fisik, anak mengalami nyeri di bagian perut karena berusaha menahan BAB.
Akhirnya, kotoran yang harusnya dibuang tetapi tertahan di dalam perut. Dalam beberapa kasus encopresis menyebabkan infeksi pada salurah kemih karena kebiasaan menahan BAB. Ada juga yang mengalami gangguan iritasi kulit atau jamur karena kebersihan tak terjaga. Kalau sudah begitu, anak juga akan kehilangan nafsu makan sehingga rentan sakit.
sumber : http://www.tabloid-nakita.com/Panduan/panduan06270-02.htm
Anak yang mengalami encopresis akan mengalami berbagai masalah emosi, seperti rendah diri, tak mau bersosialisasi atau menarik diri dari pergaulan. Ia juga akan merasa malu, takut dicemooh, atau khawatir dimarahi. Belum lagi secara fisik, anak mengalami nyeri di bagian perut karena berusaha menahan BAB.
Akhirnya, kotoran yang harusnya dibuang tetapi tertahan di dalam perut. Dalam beberapa kasus encopresis menyebabkan infeksi pada salurah kemih karena kebiasaan menahan BAB. Ada juga yang mengalami gangguan iritasi kulit atau jamur karena kebersihan tak terjaga. Kalau sudah begitu, anak juga akan kehilangan nafsu makan sehingga rentan sakit.
sumber : http://www.tabloid-nakita.com/Panduan/panduan06270-02.htm
Terapi untuk Anak Encropesis
Penderita encopresis membutuhkan penanganan yang tepat dengan melakukan terapi. Menurut Rini prinsip terapinya adalah konseling atau edukasi pada anak mengenai BAB. Mereka dapat cepat memahami penjelasan yang diberikan mengingat kemampuan kognitif anak seusia ini sudah berkembang.
Salah satunya adalah terapi yang bisa dilakukan kalau anak selalu menahan BAB karena merasa jijik dan tak mau masuk ke kamar mandi umum:
* Tanamkan bahwa tidak semua kamar mandi umum/sekolah akan resik dan wangi sesuai dengan harapannya.
* Sebelum menggunakan toilet umum/sekolah, minta ia membersihkan dengan menyiramnya terlebih dahulu.
* Tak ada salahnya anak selalu dibekali tisu, masker, dan pengharum ruangan untuk lebih menyamankannya saat di toilet umum.
* Yang pasti, jangan beri anak pembalut untuk mengatasi encopresis-nya. Ini justru tak mendidik.
* Jika masalah psikologis anak tampak berat, sampai stres atau trauma misalnya, ada baiknya orang tua dan anak duduk bersama membahas permasalahan yang dihadapi. Jika perlu konsultasikan dengan psikolog.
* Terapkan pola makan yang baik dan teratur. Usahakan banyak mengonsumsi makanan berserat, sayuran, buah-buahan, serta susu. Kurangi konsumsi makanan berlemak tinggi, junk food, dan soft drink.
* Kepada anak yang selalu merasa nyeri saat mau BAB bisa diberikan obat-obatan untuk pengencer tinja. Namun, penggunaanya harus tetap berdasarkan rekomendasi dokter.
* Ajarkan untuk melakukan BAB secara teratur, misalnya pagi atau malam hari.
* Yang pasti, anak jangan disalahkan atau dicemooh kalau mengalami encopresis. Mestinya orang tua selalu mendukung dan membantu kesulitan anak.
sumber : http://www.tabloid-nakita.com/Panduan/panduan06270-02.htm
Salah satunya adalah terapi yang bisa dilakukan kalau anak selalu menahan BAB karena merasa jijik dan tak mau masuk ke kamar mandi umum:
* Tanamkan bahwa tidak semua kamar mandi umum/sekolah akan resik dan wangi sesuai dengan harapannya.
* Sebelum menggunakan toilet umum/sekolah, minta ia membersihkan dengan menyiramnya terlebih dahulu.
* Tak ada salahnya anak selalu dibekali tisu, masker, dan pengharum ruangan untuk lebih menyamankannya saat di toilet umum.
* Yang pasti, jangan beri anak pembalut untuk mengatasi encopresis-nya. Ini justru tak mendidik.
* Jika masalah psikologis anak tampak berat, sampai stres atau trauma misalnya, ada baiknya orang tua dan anak duduk bersama membahas permasalahan yang dihadapi. Jika perlu konsultasikan dengan psikolog.
* Terapkan pola makan yang baik dan teratur. Usahakan banyak mengonsumsi makanan berserat, sayuran, buah-buahan, serta susu. Kurangi konsumsi makanan berlemak tinggi, junk food, dan soft drink.
* Kepada anak yang selalu merasa nyeri saat mau BAB bisa diberikan obat-obatan untuk pengencer tinja. Namun, penggunaanya harus tetap berdasarkan rekomendasi dokter.
* Ajarkan untuk melakukan BAB secara teratur, misalnya pagi atau malam hari.
* Yang pasti, anak jangan disalahkan atau dicemooh kalau mengalami encopresis. Mestinya orang tua selalu mendukung dan membantu kesulitan anak.
sumber : http://www.tabloid-nakita.com/Panduan/panduan06270-02.htm
Encopresis
Encopresis, yaitu ketidakmampuan untuk mengendalikan atau menahan BAB tanpa ditemukannya kelainan atau penyakit. Kebanyakan gejala ini memang dialami oleh anak usia SD. "Ini sesuatu yang tak normal atau tak biasa," kata dokter dari Subbagian Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUPN Cipto Mangunkusumo.
Sebuah penelitian menyebutkan bahwa sekitar 1,5 persen anak usia SD mengalami encopresis. Lebih rinci lagi, 2 persen dari jumlah tersebut adalah anak laki-laki usia 8 tahun. Sementara anak perempuan usia 8 tahun yang mengalami encopresis hanya 0,7 persen. Masih menurut survei, anak laki-laki lebih sering mengalami encopresis sekitar 3 kali lipat dibandingkan anak perempuan. Kenapa begitu? Selidik punya selidik ternyata anak perempuan memang lebih cepat menerapkan toilet training dibandingkan anak laki-laki.
Yang perlu diketahui juga, kejadian encopresis tak berkaitan sama sekali dengan faktor genetik, status sosial, atau status ekonomi. Jadi, siapa pun bisa mengalaminya. Pada beberapa kasus, encopresis dialami oleh anak yang hiperaktif dan ADHD.
Sumber : http://www.tabloid-nakita.com/Panduan/panduan06270-02.htm
Sebuah penelitian menyebutkan bahwa sekitar 1,5 persen anak usia SD mengalami encopresis. Lebih rinci lagi, 2 persen dari jumlah tersebut adalah anak laki-laki usia 8 tahun. Sementara anak perempuan usia 8 tahun yang mengalami encopresis hanya 0,7 persen. Masih menurut survei, anak laki-laki lebih sering mengalami encopresis sekitar 3 kali lipat dibandingkan anak perempuan. Kenapa begitu? Selidik punya selidik ternyata anak perempuan memang lebih cepat menerapkan toilet training dibandingkan anak laki-laki.
Yang perlu diketahui juga, kejadian encopresis tak berkaitan sama sekali dengan faktor genetik, status sosial, atau status ekonomi. Jadi, siapa pun bisa mengalaminya. Pada beberapa kasus, encopresis dialami oleh anak yang hiperaktif dan ADHD.
Sumber : http://www.tabloid-nakita.com/Panduan/panduan06270-02.htm
Langganan:
Postingan (Atom)