Laman

Sabtu, 27 November 2010

Kehidupan Baru untuk Korban Bencana Alam

Seperti kita ketahui akhir-akhir ini banyak sekali bencana yang menimpa negeri kita tercinta. Ada banjir bandang di Wasior, tsunami di Mentawai, dan juga meletusnya gunung Merapi yang memakan banyak korban jiwa serta menghancurkan banyak rumah warga dan fasilitas umum. Beberapa faktor penyebab terjadinya bencana-bencana tersebut adalah rusaknya alat pendeteksi pemantau bencana, human error, juga faktor alam.
Dikutip dari tempointerkatif.com gunung merapi mengalami uninterrupted eruption atau erupsi tak terputus pada tahun 2010 ini. Erupsi yang bersifat ekspolif 26 Oktober lalu mengalami jeda, tetapi mulai rabu (3/11) erupsi terjadi terus-menerus hingga sabtu (6/11).

Erupsi mengakibatkan jatuhnya korban jiwa yang cukup menyulitkan para relawan untuk melakukan evakuasi terhadap jenazah yang tertimbun abu vulkanik merapi. Tidak hanya itu pengevakuasian terhadap korban di Mentawai pun terhambat karena sulitnya menjangkau daerah yang diluluhlantahkan oleh tsunami tersebut.
Data yang kami dapat menyatakan bahwa dari bencana-bencana tersebut penanganan akan korban-korban jiwa sangatlah lambat. Hal ini dikarenakan keterbatasannya alat bantu dan tim evakuasi. Keterbatasan-keterbatasan ini juga dipicu dari kurangya perhatian dari pemerintah yang bersangkutan.

Menurut kami, ketika status waspada diinformasikan. Antisipasi pertama seharusnya dilakukan sejak awal diumumkannya batas aman. Batas aman yang ditentukan seharusnya sejauh mungkin dari puncak gunung Merapi. Penanganan yang baik adalah penanganan yang tanggap darurat. Maksudnya, baik pemerintah setempat, tim evakuasi dan alat pemantau berjalan beriringan dengan baik sehingga jatuhnya korban jiwa dapat diminimalisir. Penanganan juga dilakukan di tempat pengungsian para korban bencana merapi contoh penanganannya adalah dengan menyediakan pengungsian yang layak seperti tersedianya MCK, selimut, makanan yang bergizi, baju layak pakai, pembalut, pakaian dalam, popok untuk anak-anak dan dewasa dan susu untuk bayi, obat- obatan dan tersedianya penanganan secara medis bagi korban merapi. Tempat pengungsian yang layak menurut kelompok kami adalah jika wanita dan anak – anak di bedakan dengan laki – laki dewasa agar tidak terjadi hal – hal yang tidak di inginkan misalnya pelecehan seksual terhadap wanita dan anak – anak. Penanganan secara psikologis juga sangat diperlukan bagi para korban bencana merapi. Fungsi penanganan secara psikologis adalah untuk memberikan motivasi kepada mereka bahwa hidup harus terus berjalan, fungsi selanjutnya adalah berguna untuk menghilangkan trauma mendalam terutama pada anak – anak dan wanita. Contoh penanganan untuk anak –anak seperti mengajak bermain agar mereka merasa terhibur. Penanganan untuk orang dewasa seperti mendengarkan keluh kesah mereka, bersikap empati (mengerti dan memahami keadaan mereka).

Pengertian relokasi menurut kami terbagi menjadi dua yaitu pembangunan kembali di daerah atau tempat tinggal asal dengan catatan bahwa tempat tinggal tersebut dinyatakan aman kembali dan pemindahan di tempat tinggal yang baru dengan melihat bagaimana masyarakat Merapi, Mentawai dan Wasior mampu beradaptasi dengan situasi yang baru dan kelayakan kehidupan (pekerjaan dan pendidikan).

“Pemerintah akan mengalami kesulitan untuk memindahkan seluruh mayarakat di lereng Merapi karena ada keterikatan emosional yang kuat diantara mereka dengan gunung merapi. Bagaimana caranya memindahkan orang yang sudah turun menurun tinggal didaerah tersebut. Mereka akan mencari makan di lereng Merapi. Perlu kearifan lokal dan harus melibatkan tokoh masyarakat jika pemerintah terus memaksakan kehendaknya untuk melakukan relokasi terhadap masyarakat di Lereng Merapi. Selain tindakan tegas pemerintah juga harus melibatkan tokoh yang disegani di masyarajkat di sekitar lereng merapi agar mereka mau dipindahkan. Dan pemerintah juga harus memberikan kompensasi yang jelas tidak mengubar janji terus menerus” tutur Ketua Umum DPP LDII, Prof.Dr.KH Abdullah Syam yang dikutip dalam republika.co.id.

Dari kutipan diatas kami menyimpulkan bahwa untuk pengrelokasian korban Mentawai dilakukan di daerah pantai namun, dengan jarak yang tidak terlalu dekat dengan bibir pantai karena kehidupan mereka yang sebagian besar adalah bermata pencaharian sebagai nelayan dengan menyediakan fasilitas atau peralatan yang biasa mereka gunakan. Sedangkan untuk pengrelokasian terhadap korban merapi yaitu tetap membangun pemukiman di tempat tinggal awal karena mereka memiliki suatu kebiasaan atau adat istiadat serta keterikatan psikologis yang tidak dapat dipisahkan dari merapi. Pemukiman yang di bangun semestinya sesuai dengan keadaan dan kondisi mereka. Pengrelokasian ini juga hendakya memperhatikan keberfungsian alat pemantau bencana agar setidaknya mengurangi jatuhnya korban jiwa. Pembangunan kepercayaan diri serta motivasi juga sangat diperlukan agar mereka mau bangkit untuk melanjutkan hidup.








Nama Kelompok :

  • Aryanti ( 10508250 )
  • Irma Retno Juwika ( 10508113 )
  • Nani Yuliani ( 10508149 )
  • Regian Amanah R ( 10508256 )
  • Siti Lini Falihah ( 10508212 )
  •  

    Sabtu, 30 Oktober 2010

    Jumat, 08 Oktober 2010

    KELOMPOK PENGAJIAN “LIKO”

    Pengajian Liko adalah sebuah kelompok pengajian yang angotanya terdiri dari ibu-ibu. Pengajian liko mulai dibentuk pada bulan Juli 2006. kegiatan yang ada pada kelompok pengajian ini adalah tadarus Al-Qur’an, ceramah, dan belajar tentang agama Islam. Visi dari pengajian Liko ini adalah untuk menjadikan ibu-ibu anggota pengajian ini menjadi ibu yang dapat mendidik anak dan melayani suami sesuai ajaran agama islam. Awal mula dibentuk pengajian ini mempunyai anggota 13 orang dan seorang guru yang bernama Umi Silvi. Umi Silvi menjadi guru pada tahun 2006 sampai 2007, karena ia hamil dan harus melahirkan maka Umi Silvi digantikan dengan Umi Sri. Umi Sri menjadi guru dalam pengajian Liko hanya sekitar satu tahun dari tahun 2007 sampai 2008, karena Umi Sri juga hamil dan harus melahirkan maka Umi Sri kembali digantikan oleh Umi Silvi yang sampai sekarang masih menjadi guru dalam pengajian Liko. Pengajian Liko mempunyai jadwal hanya seminggu sekali, tepatnya setiap hari rabu, karena anggota pengajian ini terus bertambah maka pengajian ini pun dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu pada hari rabu dan jum’at. Pengajian Liko hingga sekarang beranggotakan 17 orang yang dibagi menjadi 2 kelompok. Pengajian ini dubagi menjadi 2 kelompok agar para anggota bisa mendapatkan perhatian dari guru, karena kalau terlalu banyak maka akan sulit untuk para ibu-ibu memahami apa yang diajarkan oleh guru mereka. Pengajian Liko diadakan setiap minggu dirumah para anggotanya, para anggota pengajian ini bergiliran setiap minggu menyediakan tempat, yaitu rumah mereka. Selain tempat belajar mengaji dan belajar mengenai agama islam, pengajian ini juga dijadikan tempat mencurahkan isi hati para anggotanya kepada guru mereka. Para anggota sering meminta saran kepada guru mereka jika sedang ada masalah dalam keluarga mereka, dan guru mereka dengan senang hati memberikan saran-saran yang tentunya sesuai dengan ajaran Islam.
    Pelajaran yang telah diajarkan sampai sekarang adalah :
    1. Sifat-sifat manusia dalam Al-Qur’an
    2. Jalan menuju Taqwa
    3. Ciri-ciri wanita soleha
    4. Tanda-tanda rukiah yang rintih
    5. Cara-cara sodakoh
    6. Ciri-ciri Al-Qisir ( sombong )
    7. Adab menghadiri tarbiah ( pendidikan )
    8. Menuju ramadhan yang lebih bermakna
    9. Ukuwah
    10. Wajib membaca Al-Qur’an
    11. Urgenzi Aqidah dalam kehidupan individu dan masyarakt
    12. Penyakit samar-samar ( Marodu Subhad )
    13. Tanda-tanda sehatnya agma Islam
    14. Hajat manusia kepada Risallah
    15. Sebab-sebab penyakit Futu ( melemah )
    16. Tuntutan-tuntutan iamn
    17. Ikhlas dalam kehidupan kita
    18. Janji Allah kepada orang yang beriman
    19. Makna Islam
    20. Ciri-ciri orang beriman
    21. Adab-adab orang berinfak
    22. Dua kalimat syahadat
    23. Dua golongan manusia mengingkari syukur
    24. Amalan dunia yang berdemensi ukrewi
    25. Kewajiban seorang muslim terkait dengan waktu
    26. Faktor-faktor doa kita yang menyebabkan tidak dijabah oleh Allah
    27. Tuntutan ikhlas dalam kehidupan kita
    28. Amalan sunah bulan ramadhan
    29. 10 langkah menyambut Ramadhan
    30. Taqiah ( pengorbanan )
    31. Taat kepada Allah dan Rasul
    32. Bukti keberadaan Allah
    33. Islam sebagai akhlak
    34. Ma’iyyatullah ( kesertaan Allah )
    35. 7 siar akhlak
    36. Tawadu ( rendah hati )
    37. Bersikap sopan pada diri sendiri
    38. Bekal perubahan
    39. makna LAILAHAILALLAH
    40. Kesempurnaan Islam
    41. Kendala-kendala yang menghadang kita untuk menggunakan waktu secara optimal
    42. Merawat pohon hidayat ( keimanan )
    43. Islam sebagai akhlak
    44. Apa Islam tegar dimuka bumi
    45. ID kehidupan taqwa
    46. Mewujudkan hubungan yang kuat dengan Allah
    47. Definisi manusia
    48. Mengenali diri sendiri
    49. Kriteria wanita soleha
    50. 9 tips menjadi anak taqwa
    51. Adab-adab bertamu
    52. Taget-target Ramadhan
    53. Istiqomah dalam diri kita
    54. Sikpa-sikap orang yang istiqomah
    55. Hakekat manusia
    56. Istiqomah dan Konsisten.
    57. Pendidikan iman pada anak
    58. Hasil dari ibadah
    59. Adab-adab berdoa
    60. Halaqoh ( benteng yang kokoh )
    61. Ikhlas
    62. 13 Bukti penguat keikhlasan
    63. 18 Bahaya lisan
    64. Fungsi wanita Islam
    65. 10 Golongan yang tidak masuk surga
    66. 10 Temannya iblkis
    67. 20 Golongan musuh iblis
    68. 8 Nasehat Syaidina Umar
    69. 6 Faktor menghapus pahala kebaikan
    70. Definisi haid
    71. Arrolhoyol Istijabah
    72. 6 Dampak bersyukur
    73. Bentuk-bentuk kesabaran
    74. Faktor-faktor yang meningkatkan keimanan kita
    Materi-materi diatas adalah yang telah diajarkan oleh Umi Silvi kepada anggota pengajiannya. Umi Silvi berharap apa yang telah ia ajarkan dapat berguna bagi para anggotanya.
    Demikianlah penjelasan mengenai suatu kelompok Pengajian yang terdiri dari ibu-ibu rumah tangga, yaitu ”Pengajian Liko”. Terimakasih karena telah membaca tulisan ini dan semoga tulisan ini berguna bagi yang membaca.

    Selasa, 01 Juni 2010

    Penyebab Encopresis

    Belum diketahui secara pasti apa yang menjadi penyebab anak mengalami encopresis. Meski begitu, kalau mau dirunut ada beberapa faktor yang "mengontribusi" terjadinya encopresis yaitu:
    1. Stres
    Anak mengalami beban pikiran yang tak terselesaikan. Entah itu masalah di sekolah atau di rumah. Misalnya, masalah pelajaran yang terlalu berat atau lingkungan sekolah yang membuatnya tak nyaman. Permasalahan dengan orang tua, seperti merasa kurang diperhatikan atau kurang kasih sayang, juga dapat menjadi beban pikiran.
    2. Kurang aktivitas fisik
    Anak yang kurang melakukan aktivitas fisik berisiko mengalami encopresis. Sebaiknya di usia sekolah, dimana anak tengah bersemangat melakukan eksplorasi, ia diberi berbagai kegiatan. Tujuannya selain untuk mengantisipasi terjadinya encopresis, juga demi mengembangkan kemampuan dan keterampilannya.
    3. Selalu menahan BAB
    Ada juga beberapa anak yang selalu menahan BAB. Alasannya beragam. Misalnya, anak terlalu asyik melakukan suatu kegiatan sehingga enggan pergi ke toilet. Namun karena rangsangan untuk BAB begitu kuat dan tak bisa ditahan lagi, akhirnya terjadilah encopresis.
    Sebagian anak menahan BAB karena tak terbiasa menggunakan sarana umum, terutama toilet yang kurang bersih. Misalnya, kamar mandi di sekolah yang ternyata bau dan kotor yang bertolak belakang dengan toilet di rumah yang terjaga kebersihannya. Akhirnya dia memilih menahan BAB ketimbang harus memakai toilet sekolah. Saat si anak tak kuat lagi menahan, terjadilah encopresis. Syukur-syukur kalau ia berterus terang BAB di celana, karena biasanya mereka akan diam seribu basa. Baru ketahuan orang lain setelah tercium aromanya yang tak sedap.
    4. Makanan/Minuman
    Encopresis juga bisa dipicu oleh asupan makanan yang kurang baik yang menyebabkan gangguan di saluran pencernaan. Misalnya sering menyantap makanan berlemak tinggi, berkadar gula tinggi atau junk food. Minuman yang mengandung banyak gula dan soda juga bisa mencetuskan terjadinya encopresis.
    5. Trauma
    Contohnya, akibat sembelit atau kesulitan mengeluarkan tinja karena keras. Lama-kelamaan anak menjadi trauma karena setiap kali BAB ia merasa sakit. Untuk menghindari rasa sakit itu, ia jadi sering menahan untuk tidak BAB.
    6. Obat-obatan
    Encopresis juga bisa terjadi karena efek obat-obatan yang bisa menyebabkan terhambatnya pengeluaran kotoran. Misalnya, obat batuk yang mengandung zat seperti codein. Encopresis terjadi karena obat tersebut tak cocok atau dipakai dalam jangka panjang.
    7. Kegagalan toilet training
    Pengajaran atau pelatihan buang air (toilet training) yang dilakukan dengan memaksa anak, cepat atau lambat akan menjadi tidak efektif. Begitu pula kalau misalnya anak yang BAB di celana lantas dimarahi orang tua.
    sumber : http://www.tabloid-nakita.com/Panduan/panduan06270-02.htm

    Belajar Membaca dengan Membangun Phonemic Awareness

    Fonologi adalah ilmu tentang perbendaharaan fonem sebuah bahasa dan distribusinya.
    Fonologi berbeda dengan fonetik. Fonetik mempelajari bagaimana bunyi-bunyi fonem sebuah bahasa direalisasikan atau dilafazkan. Fonetik juga mempelajari cara kerja organ tubuh manusia, terutama yang berhubungan dengan penggunaan bahasa.

    5Phonemic awareness (kesadaran fonologis) adalah kesadaran anak bahwa ada bagian yang berbunyi dari kata-kata, dimana anak mampu mengolah bunyi-bunyi itu sehingga terbentuk suara dan kata yang diucapkan. Dalam pengajaran, kesadaran fonologis ini dikembangkan dengan cara melatih anak untuk bersajak, bermain kata, memecah-mecah kata serta mencampur huruf-huruf. Misalnya bunyi yang sama pada kata 'batu', 'satu', 'ratu' dapat menjadi pola pembelajaran dalam membangun kesadaran fonologis.

    Banyak penelitian menunjukkan bahwa anak yang memiliki kesadaran fonologis akan menunjukkan kemajuan pesat dalam belajar membaca. Apabila seorang anak dapat mendengar dan mengucapkan dengan baik bunyi-bunyian bahasa, maka ia akan dapat membaca dengan baik. Sebaliknya, ketika anak dapat membaca dengan baik, maka ia akan dapat mendengarkan dan mengucapkan bunyi-bunyian dengan baik pula. Semakin anak mahir mendengarkan dan mengucapkan bunyi-bunyian yang berbeda dalam bahasa, semakin mahir pula ia membedakan satu kata dari kata yang lain. Akhirnya, semakin pandai seorang anak membedakan satu kata dari kata yang lain, maka akan semakin mudah baginya untuk memahami kalimat yang sedang ia baca.

    Contoh konkretnya, pembedaan kata 'saku' dan 'paku' akan memudahkan anak memahami kalimat 'Rudi mengambil paku dari saku celana'. Contoh yang lebih kompleks adalah dengan mampu membedakan kata 'bang' dengan 'bank', anak akan jauh lebih mudah memahami kalimat 'Bang Andi menabung di bank'.

    Masih banyak hal lain yang penting diketahui mengenai phonemic awareness serta kaitannya dengan kemampuan baca anak. Hal-hal tersebut dapat Anda kuasai dengan mengikuti Workshop Phonemic Awareness yang akan segera LPTUI selenggarakan. Pada workshop ini, Anda juga akan diperkenalkan dengan berbagai metode dan teknik menyenangkan untuk mengajarkan kesadaran fonologis pada anak. Satu hal yang pasti, pengenalan kesadaran fonologis pada anak merupakan salah satu cara yang efektif meningkatkan kemampuan anak untuk membaca dengan baik dan benar, sekaligus meningkatkan minat baca mereka.

    sumber : http://www.lptui.com/artikel.php?fl3nc=1¶m=c3VpZD0wMDAyMDAwMDAwYTImZmlkQ29udGFpbmVyPTY2&cmd=articleDetail

    PERKEMBANGAN KEMAMPUAN BERBAHASA

    PERKEMBANGAN KEMAMPUAN BERBAHASA

    Fungsi berbahasa merupakan proses paling kompleks di antara seluruh proses perkembangan. Kemampuan berbahasa bersama kemampuan perkembangan pemecahan masalah visio-motor merupakan petunjuk yang paling baik dari ada tidaknya gangguan intelegensia. Perkembangan bahasa memerlukan fungsi reseptif dan ekspretif. Fungsi reseptif adalah kemampuan anak untuk mengenal dan bereaksi terhadap seseorang, terhadap kejadian di lingkungan sekitarnya, mengerti maksud mimik dan nada suara dan akhirnya mengerti kata-kata. Fungsi ekspretif adalah kemampuan anak mengutarakan pikirannya, dimulai dari komunikasi preverbal (sebelum anak dapat berbicara), komunikasi dengan ekspresi wajah atau mimik, gerakan tubuh, dan akhirnya dengan menggunakan kata-kata atau komunikasi verbal.
    Kemampuan berbahasa pada bayi baru lahir

    Fungsi reseptif terlihat dengan adanya reaksi bayi terhadap suara dan mengenal bunyi. hal ini pada mulanya bersifat refleks. Kemudian ia memperhatikan respons berupa terdiam kalau mendengar suara, mengedip, atau seperti gerak terkejut. Fungsi ekspresif muncul berupa munculnya suara tenggorok misalnya bertahak, batuk dan menangis. Fungsi suara tenggorok berangsur menghilang umur 2 bulan, digantikan dengan suara “ooo-ooo”. Senyum sosial telah dapat dilihat pada umur 5 minggu dengan cara mengajaknya berbicara atau mengelus pipinya. Reaksi orientasi terhadap bunyi seperti respons motorik, mengedip atau gerakan seperti kaget merupakan hal yang penting untuk diperhatikan.

    Kemampuan berbahasa pada umur 2-21 bulan

    Pada umur 2 bulan, bayi dapat mengeluarkan suara “ooo-ooo” dengan irama yang musikal. Pada umur 4 bulan, terdengar suara “agguuu-aguuu”. Padaumur 6 bulan terdengar anak dapat menggumam (babbling) seperti “mam-mam”. Pada umur 8 bulan dia dapat mengucapkan “dadada” lalu menjadi “dada” yang belum berarti, disusul “dada” yang diucapkan saat ia melihat ayahnya. “mama” akan muncul lebih belakang. ia dapat mengerti “tidak boleh!!” yang disertai suara nada tinggi pada umur 9 bulan. Pada umur 11 bulan ia dapat mengucapkan kata pertama yang benar, disusul kata kedua pada umur 1 tahun.

    Reaksinya terhadap suara bel dapat digunakan untuk menguji kemampuan reseptif dan orientasi. Pada umur 5 bulan ia menoleh tetapi tidak menatap kepada suara. Umur 7 bulan menoleh dan menatap sumber suara. Umur 10 bulan ia mencari an menatap sumber suara. bel tidak dapat digunakan untuk menguji pendengaran dengan baik, hanya sebagai screening saja.

    Kemampuan berbahasa 12-18 bulan

    Antara 12-15 bulan terdengar munculnya kata-kata baru sebanyak 4-6 kata. Dapat terdengar pula immature jargoning yaitu anak berbicara dalam bahasa yang aneh, atau mencoba mengucapkan kalimat berupa suara yang tidak jelas artinya. Antara 16-17 bulan, ia sudah dapat menguasai 7-20 kata dan jargoning menjadi lebih matang yang ditandai munculnya kata yang benar diantara kata yang tidak benar pada usia 18 bulan, ia dapat mengucapkan kalimat pendek yang susunannya belum benar misalnya: “Joni minta”, “kasih joni”, “minta susu”.

    Kemampuan berbahasa setelah 18 bulan

    Pada umur 21 bulan, perbendaharaan kata mencapai 50 kata, dan ia dapat mengucapkan kalimat terdiri dari 2 kata. Ia sudah menggunakan kata “saya” atau “kamu” walaupun seringkali belum tepat. Pada umur 30 bulan, kata “saya” atau “kamu” sudah benar. Pada umur 3 tahun ia menguasai 250 kata dan dapat membentuk kalimat terdiri 3 kata. Pada umur 4 tahun ia mulai bertanya mengenai arti suatu kata, terutama yang abstrak. Ia dapat bercerita dan menggunakan kalimat terdiri dari 4-5 kata.

    Tabel 2. Tahapan Perkembangan Bicara

    Reseptif (pengertian)
    Bereaksi terhadap suara lahir
    Tersenyum sosial 5 minggu
    Orientasi terhadap suara 4 bulan
    Menoleh kepada suara bel 5-9 bulan
    Mengerti perintah “Tidak boleh!” 8 bulan
    Mengerti perintah ditambah mimik 11 bulan
    Mengerti perintah tanpa mimik 14 bulan
    Menunjuk 5 bagian badan yang disebutkan 17 bulan
    Ekspretif (ucapan)
    “Oooo-ooo” 6 minggu
    “Guu,guuu” 3 bulan
    “a-guuu, a-guuu” 4 bulan
    Mengoceh 4-6 bulan
    “Dadadada” (menggumam) 6 bulan
    “Da-da, ma-ma” tanpa arti 8 bulan
    “Dada, mama” dengan arti 10 bulan
    Kata pertama selain mama 11 bulan
    Kata kedua 12 bulan
    Kata ketiga 13 bulan
    4-6 kata 15 bulan
    7-20 kata 17 bulan
    Kalimat pendek 2 kata 21 bulan
    50 kata 2 tahun
    Kalimat terdiri dari 2 kata
    250 kata 3 tahun
    Kalimat terdiri dari 3 kata
    Kalimat terdiri dari 4-5 kata 4 tahun
    Bercerita
    Menanyakan arti suatu kata
    Menghitung sampai 20

    sumber : Tudor M. Child development. Mc Graw-Hill Book Company, 1981.

    Gangguan berbahasa campuran reseptif-ekspretif

    Selain ciri gangguan bicara ekspretif, anak-anak ini juga mempunyai kesulitan mengartikan ucapan orang lain, terutama yang bersifat abstrak. Mereka sering salah mengartikan pertanyaan, komentar, atau cerita yang panjang. Kriteria diagnosis memerlukan intelegensi non-verbal yang normal.

    prognosis kurang baik dibandingkan gangguan berbahasa ekspretif. Pada masa sekolah mereka akan tertinggal oleh teman sebayanya. Karena komprehensi kurang baik, dapat muncul gangguan atensi. Kira-kira 40-60% akan mengalami gangguan fonologi, sedangkan 50% mengalami gangguan membaca. Masalah bahasa, dikombinasi dengan kesulitan membaca atau atensi akan menyebabkan lingkaran setan kemampuan akademik yang kurang, rasa percaya diri yang rendah, motivasi yang rendah dan isolasi sosial pada 70% kasus.

    Mereka akan dapat berbicara, tetapi terlambat dibandingkan anak sebayanya. Pada masa dewasa, kemampuan bicara cukup untuk komunikasi sehari-hari, tetapi mereka tetap menunjukan kesulitan bila harus mengartikan atau menceritakan suatu masalah yang kompleks

    sumber : Tudor M. Child development. Mc Graw-Hill Book Company, 1981.